Friday, 10 January 2014

fiqih toharoh




MANDI
Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Study Fiqih

Dosen Pengampu
Isnatin Ulfah, M.Hi
   
      

Disusun Oleh
Anna Faridatul Afida          210911066
Program Studi Tadris Bahasa Inggris
Jurusan Tarbiyah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
TAHUN 2012

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap kegiatan ibadah umat islam pasti melakukan thaharah terlebih dahulu mulai dari wudhu mandi ataupun tayammum dan tidak banyak umat Islam sendiri belum mengerti ataupun sudah mengerti tetapi dalam prakteknya menemukan sebuah masalah ataupun keraguan atas hal yang menimpanya. Di sini saya akan membahas tentang bab mandi.

B.  Rumusan Masalah
a.    Apakah pengertian mandi ?
b.    Bagaimana tata cara mandi ?
c.    Apa larangan bagi orang junub ?
d.   Apa rukun, dan sunah mandi ?
e.    Apakah macam-macam mandi sunah ?

C.  Tujuan
a.    Untuk mengetahui pengertian mandi
b.    Untuk mengetahui lebih jauh tentang mandi








PEMBAHASAN

A.  Pengertian Mandi ( Al ghuslu )
Secara bahasa berarti mengalir.
Secara istilah adalah meratakan air keseluruh badan dengan air dengan niat tertentu.
Perbedaan antara Al-ghuslu, Al-ghoslu dan Al-ghislu menurut istilah fuqoha':
1. Al-ghuslu : Meratakan seluruh badan menggunakan air.
2. Al-ghoslu : sebutan untuk membasuh sebagian anggota badan dengan air.
3. Al-ghislu : sebutan untuk barang yang digabungkan ke air, seperti sabun
dan sebagainya.

B.  Tata Cara Mandi

Terdapat didalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah :







‘Aisyah mengatakan, “Jika Rosulullah saw. mandi lantaran junub, yang pertama-tama beliau lakukan adalah membasuh tangannya. Lalu beliau mengguyurkan air dengan tangan kanannya atas tangan kirinya, kemudian membasuh dzakarnya. Sesudah itu, beliau melakukan wudlu seperti biasanya wudlu waktu akan shalat. Kemudian, beliau menyiduk air, dan menyelipkan jari-jarinya ke pangkal rambut. Lalu beliau mengguyurkan air ke kepala sebanyak tiga kali, kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.”

C.  Larangan bagi orang yang junub
a.    Dilarang masuk masjid.
b.    Dilarang menyentuh mushaf.
c.    Dilarang membaca Al-Qur’an.

D.  Rukun Mandi
Rukun mandi hanya 3 perkara :
1)   Niat. Artinya sengaja menghilangkan hadats besar karena Allah Ta’ala. Niat ini sekurang-kurangnya harus ada ketika permulaan membasuh badan.
2)   Menghilangkan najis, yang sekira ada di badan.
3)   Meratakan air (membasuh) ke seluruh kulit tubuh, beserta rambut-rambutnya.

E.  Sunah Mandi
Adapun sunat mandi itu banyak, di antaranya sebagai berikut :
1)   Membaca basmallah.
2)   Berwudlu sebelum mandi.
3)   Menggosok badan dengan tangan.
4)   Menyela-nyela pada rambut yang tebal.
5)   Mentiga kalikan membasuh.
6)   Berturut-turut. Yakni antara membasuh satu anggota dengan anggota yang lain, tidak diselangi dengan antara yang lama.
7)   Mendahulukan anggota yang kanan dan mengakhirkan yang kiri.
8)   Menutup aurat (memakai basahan), maka wajiblah memakai basahan itu.[1]

F.   Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi Besar
a.    Memasukkan hasyafah(ujung penis) kedalam farji
Farji : setiap sesuatu yang dinamakan farji (kemaluan), baik itu qubul (vulva) maupun dubur (anus), dari bangsa manusia maupun lainnya, masih hidup maupun sudah mati.
b.   Keluar Mani
Mani itu tidak mewajibkan mandi kecuali jika sudah keluar dari hasyafah atau bagian luar dari farjinya perawan (bikr) atau bagian yang wajib dibasuhketika istinja’dari farjinya tsayyib yaitu bagian yang tampak ketika dia jongkok.
          Jadi selama mani itu belum keluar dari hasyafah (masih didalam penis) maka tidak mewajibkan mandi.[2]

Perbedaan antara air Mani, Madzi dan Wadi
1.
Mani
Ciri-cirinya sebagai berikut, jika salah satu ciri dari tiga ciri dijumpai maka mewajibkan mandi :
1)   Air mani keluar karena dorongan syahwat yang sangat kuat.
2)   Keluarnya terpancar beberapa kali pancaran.
3)   Baunya seperti bau adonan tepung (al-'ajin). Atau pelepah kurma yang masih muda atau aroma putih telur apabila mani itu telah mengering.
4)   Berwarna putih dan terkadang sedikit kekuning-kuningan dan umumnya kental seperti putih telur.
5)   Apabila keluar, menimbulkan rasa enak dan nikmat serta mengurangi syahwat.
6)   Apabila air ini telah keluar maka badan menjadi letih dan lemas dan syahwat berkurang bahkan hilang sama sekali. Namun untuk wanita umumnya air tersebut keluar tidak seperti laki-laki, dia keluar tidak terpancar tetapi mengalir seperti air biasa dan aromanya tidak seperti air mani laki-laki. Namun, keduanya sama-sama keluar menimbulkan kenikmatan dan mengurangi syahwat serta badan menjadi letih dan lemas.
2. Madzi
1)   Berwarna putih, lembut dan tidak kental.
2)   Apabila dipegang terasa sedikit kasar.
3)   Keluar  bukan  karena  syahwat  yang  kuat  tapi  syahwat  yang kecil dan biasa .
4)   Keluarnya  tidak menimbulkan  kenikmatan dan  tidak  mengurangi syahwat.
5)   Keluarnya tidak terpancar, tapi keluar biasa seperti air mengalir.
6)   Setelah  air  ini  keluar,  badan  tidak  terasa  letih  dan tidak terasa lemas.
Jika air ini keluar dari seorang perempuan maka dinamakan "QODZA"
3.    Wadzi
1)   Airnya berwarna putih, pekat,tapi sedikit keruh.
2)   Keluarnya tidak menimbulkan rasa nikmat dan tidak pula mengurangi syahwat.
3)   Keluarnya tidak terpancar, tapi keluar biasa seperti air mengalir.
4)   Umumnya keluar setelah buang air kecil atau karena kecapean setelah mengangkat beban yang sangat berat.
5)   Setelah keluar air ini, badan tidak terasa letih dan tidak terasa lemas.[3]

c.    Haidh
Wajibnya mandi dari haidl ini setelah darah haidl tidak keluar lagi atau suci. Yang menjadikan wajibnya mandi itu adalah haidl itu sendiri, bukan suci dari haidl, sedangkan suci dari haidl adalah syarat untuk sah-nya mandi.
d.   Nifas
Wajibnya mandi dari nifas ini setelah darah nifas tidak keluar lagi atau suci.
e.    Wiladah
          Wiladah atau melahirkan ini mewajibkan mandi meskipun yang dilahirkan atau dikeluarkan itu tidak berbentuk manusia sekira diketahui itu adalah asalnya manusia, seperti mudlghoh (segumpal daging) atau 'alaqoh(segumpaldarah).
f.     Meninggal Dunia
Yang terakhir dari hal-hal yang mewajibkan mandi adalah meninggal dunia.
G. Mandi Sunah
a.    Mandi jum’at
        Mandi jum’at ini adalah yang paling utama diantara mandi-mandi sunnah yang lainnya, karena ada yang mengatakan mandi jum’at ini hukumnya wajib.
        Waktunya mandi jum’at dimulai dari terbitnya fajar dibatas waktu habis jika orang tersebut tidak berharap menghadiri shalat jum’at.
        Dan mandi jum'at ini disunnahkan bagi orang yang ingin menghadiri sholat jum'at. Yang lebih utama adalah mengakhirkan mandinya sampai dia hendak berangkat menghadiri jum'at.[4]
b.    Mandi hari raya
          Waktunya disunnahkannya mandi hari raya mulai dari tengah malam sampai terbenamnya matahari. Sunnahnya mandi hari raya ini karena hari raya tidak terkhususkan bagi orang yang hendak menghadiri shalat ied saja, maka mandi hari raya ini juga disunnah bagi wanita yang sedang haidh dan orang yang belum tamyiz.
Wanita haidl dilarang melakukan mandi dengan niat ibadah kecuali dalam masalah mandi hari raya ini dan beberapa mandi yang lainnya seperti yang telah disebutkan diatas.
a.      Mandinya orang yang memandikan janazah.
Meskipun janazah yang dimandikan adalah janazahnya orang kafir, dan meskipun yang memandikan janazah  adalah wanita yang sedang haidl atau nifas.
Waktunya
 mandi   masuk  setelah selesai  memandikan  janazah, dan waktunya habis dengan berpaling / tidak menghendaki mandi sunnah ini.
b.      Mandi Istisqo’
Masuk waktunya, jika sholatnya sendirian ketika hendak sholat istisqo' (minta hujan), jika sholatnya berjama'ah waktunya mandi masuk ketika orang-orang sudah berkumpul, dan waktunya mandi selesai dengan dikerjakannya sholat istisqo'.
c.       Mandi gerhana matahari dan bulan
Waktunya mulai sejak ada perubahan pada matahari atau bulan, dan waktunya habis dengan dikerjakannya sholat gerhana.
d.      Mandinya Muallaf
Ini jika semasa kafir orang tersebut tidak junub, jika orang tersebut semasa kafirnya pernah junub maka dia wajib mandi janabat.
e.       Mandi karena sembuh dari gila dan siuman dari pingsan.
Ini jika semasa gila atau pingsan tidak keluar mani, jika keluar mani maka wajib mandi.
f.       Mandi karena berbekam.
g.      Mandi ketika haji dan umrah
Yaitu ketika hendak ihram, ketika masuk kota Makkah, wuquf di Arofah, thowaf, melempar jumroh.
Menurut pendapat yang kuat tidak disunnahkan mandi untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah karena waktunya dekat dengan wuquf di Arofah.
Dalam mandi sunnah ketika haji dan umrah ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang suci atau yang sedang haidl.
h.      Mandi ketika masuk Madinatu Rosul.[5]

والله اعلم

المراجع
1.
التقريرات السديدة في المسائل المفيد

PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara istilah mandi adalah meratakan air keseluruh badan dengan air dengan niat tertentu. Tata cara mandi rosulullah saw, pertama-tama beliau lakukan adalah membasuh tangannya. Lalu beliau mengguyurkan air dengan tangan kanannya atas tangan kirinya, kemudian membasuh dzakarnya. Sesudah itu, beliau melakukan wudlu seperti biasanya wudlu waktu akan shalat. Kemudian, beliau menyiduk air, dan menyelipkan jari-jarinya ke pangkal rambut. Lalu beliau mengguyurkan air ke kepala sebanyak tiga kali, kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.Larangan bagi orang junub adalah dilarang masuk masjib, menyentuh muashaf, dan mambaca Al-Qur’an.Rukun mandi ada tiga yaitu niat, meratakan air ke seluruh tubuh, menghilangkan najis.
Sunah mandi ada delapan yaitu membaca basmalah, berwudlu sebelum mandi, menggosok badan, menyela-nyela rambut,  mentiga kalikan membasuh, berturut-turut, mendahulukan anggota yang kanan, menutup aurat. Ada beberapa mandi sunah yaitu mandi jum’at, mandi hari raya, mandi istisqa’, mandi karena berbekam, mandi ketika masuk madinatu rasul.

B.     Penutup
Demikian makalah ini kami buat tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga berguna bagi para pembacanya. Amin.





DAFTAR PUSTAKA
http/aqilahilmy.edublogs.org/2010/04/25/thaharah/-wudhu-tayamum-dan-mandi/
http/untuknaily2.blogspot.com/2010/08/bab-mandi.html
Hasan, A. 1999. Tarjamah Bulughul-Maram. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Rusyd, Ibnu. 1990. Tarjamah Bidayatu’l-Mujtahid. CV. Semarang:  Asy Syifa’.
Zarkasyi, Imam. 1995. Pelajaran Fiqih 1. Gontor Ponorogo:  Trimurti Press.


[1] KH. Imam Zarkasyi. 1995. Pelajaran Fiqih 1. Gontor Ponorogo: Trimurti Press.
[2] Ibnu Rusyd. 1990. Tarjamah Bidayatu’l-Mujtahid. CV. Semarang: Asy Syifa’.
[3] http/untuknaily2.blogspot.com/2010/08/bab-mandi.html

[4] A. Hasan. 1999. Tarjamah Bulughul-Maram. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.
[5] http/aqilahilmy.edublogs.org/2010/04/25/thaharah/-wudhu-tayamum-dan-mandi/

No comments:

Post a Comment